Aku dan Tempat Tinggalku
Assalamualaikum wr. wb
Perkenalkan nama saya Ummu Kalsum, mahasiswi PAI semester 1 fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan IAIN Pontianak. Saya tinggal di sebuah desa kecil bernama Sungai Ambangah. Ya, tepatnya di kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dengan luas Wilayah daratan Desa kurang lebih 31.630 km². Desa ini terdiri dari lima dusun, 8 RW dan 34 RT. Sudah dapat dipastikan tak banyak orang tahu tentang Desaku ini apalagi jika orang kota bertanya dimana tempat tinggalku. Untuk yang pertama kali mendengarnya, mereka pasti mengira aku dari Sungai Ambawang padahal penyebutannya saja beda hanya saja namanya nya hampir sama.
Bisa dibilang desa ku ini masih asri dalam artian masih tidak ada proyek atau pembangunan besar didalamnya. Namun tentu saja tidak se asri desa - desa di Jawa sana. Kali ini Saya ingin bercerita sedikit tentang desaku. Dulu sebelum adanya perbaikan jalan, akses dari desa ke kota sangatlah memprihatinkan. Jalan untuk ke kota rusak apalagi jika musim penghujan tiba, jalannya sudah seperti kubangan lumpur. Bukan tanpa alasan, karena memang keadannya seperti itu.
Bisa teman-teman lihat sendiri bagaimana akses jalan didesa Sungai Ambangah ini. "Banyak jalan menuju Roma". Ya memang benar kata pepatah tersebut, jalan ini memang bukan satu satunya untuk ke kota. Cara lain untuk ke kota yaitu dengan menyeberangi sungai kapuas dengan sampan. Ini merupakan akses jalan kedua yang merogoh kocek, karena setiap menyebrang kita harus membayar sebesar Rp 5000 rupiah jika membawa motor. Bagaimana tidak, bayangkan saja jika misalnya kita bekerja dikota berangkat menggunakan transportasi ini. Kita harus membayar Rp 10000 rupiah pulang pergi selama satu bulan. Sudah setengah dari penghasilan kita gunakan hanya untuk menyebrang belum lagi untuk uang bensin dan lain lain. Jadi orang-orang disana tidak setiap hari menggunakan transportasi ini dan lebih memilih melewati jalan raya meskipun rusak dan becek.
Kenapa tidak meminta bantuan perbaikan jalan ke pemerintah? Bukan tidak pernah, namun pemerintah mungkin juga ada yang lebih diprioritas terlebih dulu dibanding desa kami. Sangat disayangkan padahal desa kami berbatasan dengan Arang Limbung adisucipto disebelah barat. Yang mana Arang limbung sudah jauh lebih maju dari desa kami.
Sudah lama kami menikmati jalan rusak tersebut dan menjadi hal yang biasa jika sewaktu waktu turun hujan, jalanan yang tadinya kering berubah menjadi kubangan lumpur. Kamipun sudah paham dengan keadaan ini dan harus lebih berhati hati berkendara, karena jika tidak bisa saja kami yang terpeleset dan bahkan terjatuh karna tidak melihat lubang besar yang digenangi air. Kalau untuk orang kota mungkin agak kaget melihat keadaan jalan kami dan mungkin takut untuk melewatinya. Tapi bagi warga sekitar itu adalah hal yang lumrah dan sudah seperti makanan mereka sehari hari. Kamipun santuy menghadapinya, karna mau bagaimana pun ya itulah keadaan jalan desa kami, dan jalan itulah yang harus kami tempuh setiap harinya.
Saking santuynya abang saya bahkan sering membuat meme atau editan yang menggambarkan keadaan jalan desa kami.
Dan inilah salah satu keisengan warganet melihat jalan yang rusak di Sungai Ambangah.
Dan kabar baiknya Alhamdulillah pada tahun 2019 bulan Agustus hingga November kemarin sebagian dari jalan desa Sungai Ambangah mulai diperbaiki dengan anggaran yang ada. Namun tidak seluruhnya diperbaiki karena anggaran 6 miliyar lebih masih tidak cukup untuk memperbaiki sepanjang jalan desa sungai ambangah. Dan yang diperbaiki yakni hanya sepanjang 4700 meter dari pabrik karet sampai ke tambak ikan 28 yang merupakan anggaran dari pusat dan sempat di stop pengerjaannya karna kurangnya anggaran dan kemudian dilanjutkan kembali sekarang sepanjang 320 meter yang merupakan anggaran dari kabupaten Kubu Raya.
Dan inilah keadaan jalan Desa Sungai Ambangah sekarang yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dengan diperbaiki jalan tersebut sudah membantu meringankan beban warga desa jika hendak ke kota walaupun pada dasarnya fasilitas umum lain juga blm cukup memadai dan masih banyak jalan rusak yang belum diperbaiki. Namun kami sudah sangat bersyukur akan hal itu karena pemerintah sudah mulai memperhatikan keadaan desa kecil kami.
Itulah tadi sedikit cerita tentang tempat tinggalku di desa Sungai Ambangah. Meskipun mungkin ada data yang tidak valid tapi itulah kira-kira gambaran data yang saya peroleh sebagai penduduk setempat desa Sungai Ambangah. Sampai disini dulu cerita yang dapat saya bagikan, mungkin dilain kesempatan saya bisa kembali berbagi cerita tentang tempat tinggalku yang tak banyak orang ketahui.
Wassalamualaikum wr.wb











Komentar
Posting Komentar