KULTUR SEKOLAH
Kultur
Sekolah
Apa
itu kultur sekolah?
Apakah
teman-teman sudah tahu apa itu kultur sekolah? Pada kesempatan kali ini saya
akan membahas mengenai kultur sekolah dan unsur penting didalam. Mari simak
penjelasan dibawah ini.
Kultur
(budaya) adalah organisasi yang melekat pada oganisasi. Kultur sendiri
merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat
yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam
ujud fisik maupun abstrak. Kultur sekolah dalam suatu lingkungan pendidikan
sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah. Perwujudan kultur sekolah
perlu diusahakan kondisi yang mendukungnya, yaitu: kepemimpinan/keteladanan,
dan bimbingan terhadap setiap anggota agar mampu meningkatkan semangat kerja
dan rasa bangga akan korpnya. Nilai, moral, sikap dan perilaku siswa tumbuh
berkembang selama waktu di sekolah, dan perkembangan mereka tidak dapat
dihindarkan dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah serta oleh interaksi mereka
dengan aspek/komponen di sekolah.
Istilah
kultur pada mulanya datang dari disiplin ilmu Antropologi Sosial. Apa yang
tercakup dalam definisi budaya sangatlah luas. Istilah kultur dapat diartikan
sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua
produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu
masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia , budaya diartikan sebagai pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah
berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Dalam pemakaian
sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi .
Dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dam kebiasaan dari
masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari
kelompok dalam masyarakat tersebut. Deal dan Kent mendefinikan «kultur sekolah
sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat
kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat». Menurut definisi ini, suatu
sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan
sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai
disepakati secara luas di sekolah dan sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas
di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu. Stolp dan Smith
menyatakan: « kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi,
penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah
yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru
sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan
merasakan masalah-masalah tersebut.»
Jadi,
kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam
memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan
yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Budiningsih
menyatakan dalam suatu organisasi , budaya diartikan sebagai tindakan dan norma.
Pertama, tindakan yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama yang dimiliki
oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan
lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota. Dalam lembaga pendidikan
misalnya, budaya ini berupa saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan
lain sebagainya. Kedua, norma perilaku yaitu cara berperilaku yang sudah lazim
digunakan dalam sebuah organisasi yang bertahan lama karena semua anggotanya
mewariskan perilaku tersebut kepada anggota baru. Dalam lembaga pendidikan,
perilaku ini antara lain berupa semangat untuk selalu giat belajar, selalu
menjaga kebersihan, bertutur sapa santun dan berbagai perilaku mulia lainnya.
Dalam
organisasi sekolah, pada hakikatnya terjadi interaksi antar individu sesuai
dengan peran dan fungsi masing-masing dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Tatanan nilai yang telah dirumuskan dengan baik berusaha diwujudkan dalam
berbagai perilaku keseharian melalui proses interaksi yang efektif. Dalam
rentang waktu yang panjang, perilaku tersebut akan membentuk suatu pola budaya
tertentu yang unik antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal inilah
yang pada akhirnya menjadi karakter khusus suatu lembaga pendidikan yang
sekaligus menjadi pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya.
Sekolah
memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang
konkrit/material, yaitu:
1.
Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
2.
Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non
teaching specialist, dan tenaga administrasi.
3.
Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi
keseluruhan program pendidikan.
4.
Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya
Kultur-Kultur
yang ada di Sekolah
Kultur
sekolah
Positif
:
1. Menghargai
kesuksesan
2. Menekankan
pencapaian dan kolaborasi
3. Mengikat
suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar
Negatif
:
1. Menyalahkan
siswa atas prestasinya
2. Mengindari
kolaborasi
3. Selalu
ada pertentangan antar warga sekolah
Kultur
Sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap
kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif
sebagaimana karakteristik kultur tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Moerdiyanto yang menyatakan bahwa «Kultur sekolah terdiri dari kultur positif
dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan
mutu kehidupan bagi warganya» . Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu
kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang berhubungan dengan kehidupan yang
bernilai moralitas dan agamis masyarakat sekolah. Aktifitas siswa dalam
kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses
bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang
diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik dalam sudut pandang etika
dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya
untuk membentuk dan maningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa.
Kultur
positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan
yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan
kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya
kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat
anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan
menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan
dimensi spiritaual siswa merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka
cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk dan
berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur sekolah bersifat dinamis.
Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang
jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini
ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Dan kultur
sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk
dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara
serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur
sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif,
kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Identifikasi
Kultur Sekolah
Kotter
memberikan gambaran tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama
sebagian dapat diamati dan sebagian lainnya tidak diamati . Dari pengelompokan
ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak
dapat dilihat, dan lapisan yang bisa diamati antara lain desain arsitektur
gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah, kebiasaan,
peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol,
logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang,
sopan santun, cara berpakaian warga sekolah. Sedangkan hal-hal di balik itu
tidak dapat diamati, tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai dengan segera.
Lapisan pertama ini berintikan norma perilaku bersama warga organisasi yang
berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama
dimiliki suatu kelompok masyarakat Harmoni hubungan antar warga adalah modal
bagi kemajuan.
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, Kultur sekolah memiliki peran
simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah.
Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi
akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa.
Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible dan non- material yang
intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali
justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan
pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai.
Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang
bersifat kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.
Dalam
pengembangan kultur sekolah, terdapat aneka pilihan alternatif yang dapat
disesuaikan dengan visi-misi dan kondisi sekolah, serta profil siswa dalam
aneka kecerdasan majemuk Sebagai sub-kultur, setiap sekolah dapat mengembangkan
kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang dimiliki, yang bisa jadi
identik dengan kultur masyakarat yang lebih luas. Dengan adanya variasi
tersebut, setiap sekolah memiliki peluang yang sama untuk membanggakan
keunggulan sekolah masing-masing yang khas. Semua ini peran
pimpinan sekolah yang dapat menggerakkan dan mengkomunikasikan visi-misi
sekolah kepada seluruh warga sekolah. Selain itu kita harus mengembangkan
kultur sekolah agar budaya disekolah menjadi lebih baik dan teratur.
Adapun
manfaat yang didapat dari mengembangkan kultur sekolah
1. Menjamin
kualitas kerja yang lebih baik
2. Membuka
seluruh jaringan dan komunikasi dari segala jenis dan level
3. Lebih
terbuka dan transparan
4. Menciptakan
kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi
5. Meningkatkan
rasa solidaritas dan rasa kekeluargaan
6. Jika
menemukan kesalahan segera dapat diperbaiki
7. Dapat
beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK
8. Cepat
menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi diluar
Semoga
dengan adanya tulisan ini teman-teman dapat memahami makna kultur sekolah dan
unsur yang ada didalamnya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.. Terimakasih^_^
Komentar
Posting Komentar